20 Juli 2009

Animasi Terindah

20 Juli 2009

Simbiosis mutualisme dua jiwa yang terlena antara nafsu hayawan, ibadah, kerelaan, kebutuhan, dan keterpaksaan telah mematangkan tiroksin yang becampur dan bereaksi satu sama lain. Larut… tumbuh subur menjadi benih-benih kehidupan, menyemaikan ruh dalam tulang belulang, menjalar dalam bungkusan daging lalu sempurna dalam kemasan manusia, animasi terindah -bintang kecil yang berenang di lautan angkasa, sepercik kosmik di sudut semesta.

“Satu… Dua…. Tiga. Tambah tenaganya...! Buang rasa sakit itu! Kau pasti bisa, ayo! Terus… terus, jangan menyerah!”
“Heegggghhhhh…”
“Yaa…..Allah…..!”
“Allaaaaaaaa…Hu…Akbar…!”
“Aaggghhhh……HuGK”
“Egg..hegg… HeggH…”
“Laaaaaa….Ilaha Illallaah…..!”
“Duh….Gusti…!!!!????”

Tarikan nafas yang begitu berat bercampur helaan terengah-engah serta teriakan histeris yang penuh rasa sakit terus terdengar memenuhi kamar. Tangan, kaki dan seluruh tubuh Muthiah semakin mengejang. Urat-urat nadinya bermunculan dan memaksanya keluar di sepanjang tulang.

Muthiah mengejang lagi,
“Heeg…Egghh.… Sakiiit!”
“Sedikit lagi. Kau pasti bisa, ayo!” Wanita tua itu semakin menyemangati Muthiah.
“Aku mohon, cepat keluarkan bayi ini. Sakit, Maak!” Muthiah semakin merasakan rahimnya diporakporandakan. Keringat dan darah segar pun seakan tumpah.

Sisa nafas terakhir mulai mengguratkan wajah kematiannya, menyayat tubuh dan menggetarkan jiwa para wanita, tapi Muthiah tetap jihad demi bayinya.

Suasana di kamar itu mungkin salah satu alasan yang wajar bagi seorang istri setia yang lemah lembut untuk mengutuk suami yang menceraikannya. Saat itu juga pengorbanan seorang ibu yang mahal harganya dan tak akan terbalas walau gunung menghamburkan permata, pantai dan lautan besatu melelang mutiara ataupun langit menghadiahkan purnama. Surgalah yang pantas baginya. Sungguh celaka, durjana yang menyakiti seorang ibu.

Saat yang dialami Muthiah itu merupakan sejuta investasi rahasia Kalimat Tuhan atas takdir manusia yang tidak seluruhnya terpecahkan ramalan-ramalan bintang ataupun dugaan telapak tangan.

“OoAaaaaa…,,,,,,, ???!!!”

Nafas kehidupan terhembus dengan mata yang masih susah terbuka, hanya tangis yang merintih, heran, bahagia, sedih,…. entahlah.
Segera banyak penghuni bumi riang gembira. Orang tua, saudara, bahkan para tetangga yang ada, mereka ceria menyambut cermin takdir sebagai titik awal aksiomatik dalam sebuah kehidupan yang dibekali fasilitas -ruh, as-siru, jiwa, hati, akal dan raga, yang sempurna yang dengan kesemuanya itu diharap akan memantulkan fitrahNya yang benar dari apa yang belum dan telah terjadi.

Saat-saat dilema, berlalu sempurna…
“Anakmu selamat!”
Begitu gembiranya wanita setengah tua yang dengan skillnya telah mewasilahi perjuangan Muthiah.

"HuuuuhH…." Muthiah menepis nafas yang selama 9 bulan 10 hari sekian detik terasa sesak mendesak-desak. Keringatnya masih menggenang di seluruh permukaan wajah.
"Subhanallah…Walhamdulillah…Walahaula…Wala Quwwata Illa billah…"

Muthiah terus retrospeksi saat-saat terakhir, antara hidup-mati dan berusaha hidup demi melihat reaksi emanasi dan materi primer yang terjadi atas kehendak Ilahi itu. Sementara itu dia melihat bayinya dengan tatapan penuh tanya. Harap, cemas, dan takut yang begitu saja berkumpul di dadanya.

Di tengah kerumunan saudara dan para tetangga, seorang laki-laki yang dari tadi gerak-geriknya gelisah langsung masuk ke dalam kamar yang sejak beberapa jam yang lalu penuh sindrom Qudrah dan IradahNya.
"Alhamdulillah…"
“Ya, anak kita selamat!”
Marwan, laki-laki itu terus mendekati tepi ranjang, lalu memberikan simbol kecil di kening istrinya. Seperti laki-laki lain, dia tidak bisa menahan kebahagiaanya tanpa peduli pada istrinya yang masih lemah,

Sementara suaminya bahagia, Muthiah masih merasakan rahimnya yang porak poranda dan begitu saja dia berandai-andai…
"Seandainya besar nanti… akan kujadikan si mungil ini jadi pejabat, berkedudukan tinggi di mata orang. Atau kubelikan saja dia label Ir. atau Prof… hingga banyak orang menghormatinya. Tidak, tidak, aku harus jadikan dia tukang bisnis sejati hingga dibenaknya tidak hanya ada uang.
Jangan ah jangan. Bagimanapun anakku harus seimbang pendidikannya, predikatnya, ataupun kehormatannya. Apapun akan kulakukan demi fitrah anak ini… Kalau begitu, titipkan saja dia di pesantren. Mungkin lebih baik.
Aku hanya orang awam, mana bisa membekali anak ini dengan rumitnya pemahaman. Huuhg”

Utopie Muthiah… buyar, ketika ditengah-tengah kebisingan saudara dan tetangga, masuk seorang laki-laki tua dengan peci hitam di kepala dan kain putih yang melingkar di lehernya,
“Bagaimana …anaknya ….?”
“Alhamdulillah Selamat, Pak”
“Syukurlah kalau begitu!”

Pak tua …..Kakek Si bayi yang baru saja lahir, dengan segera menuju cucunya yang terbaring tak berdaya. Lalu …
“Allahu Akbar 4x, Asyhadu Anlaa Ilaha Illallah 2x ,,,.... La Ilaha Ilallah"
"Allahu Akbar, Asyhadu Anlaa Ilaha Illallah ,,,,.... La Ilaha Ilallah”.


Semua terdiam dalam hening ketika terdengar alunan nada lembut dari Pak tua itu, adzan di sebelah kanan dan iqomah di sebelah kiri telinga. Lirih…hampir tidak terdengar bila banyak yang bicara.

Itu dilakukannya, hanya mengharap bisa mejaga fitrah kesaksian yang dibawa cucunya, cinta pertama setiap manusia: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” Ketika Dia bertanya “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Dengan adzan dan iqomah itu, Pak Tua hanya mengingatkan cucunya bahwa Tuhanlah prinsip angka satu dari maujud segala angka. Dialah Kosmogoni Sejati, Wajib Al-wujud yang Swa-ada, wujud pertama dari semua emanasi langit dan bumi.

Karena gembiranya, Marwan lupa hal itu, sampai harus dilakukan oleh mertuanya sendiri, kakek si bayi.

to be continue...

9 komentar:

lilliperry mengatakan...

banyak yg lupa itu, sederhana. bukankah hidup kita diawali suara adzan dan diakhiri juga oleh suara adzan.. :)

nunggu lanjutannya.. :D

NURA mengatakan...

salam sobat,,,wah,,wah sobat sangat peduli dan siap siaga nich,,sama seorang wanita yang melahirkan,,sampai terperinci sekali urutannya bayi terlahir di dunia.

lina mengatakan...

ceritanya indah Kang, ditunggu kelanjutannya. Mdh2an saya bisa mengalami melahirkan seperti Muthiah, tapi yang baca adzan Bapaknya, bukan Kakeknya...

genialbutuhsomay mengatakan...

wow ow ooowwww... 'reaksi emanasi dan materi primer' seperti apakah yang kiranya Muthiah berikut para ibu yang diharuskan mengeluarkan 'kehidupan' dari dalam rahimnya baik ia itu sah 'mengeluarkan'nya ataupun mendahului kehendak sang pemberi ruh itu sendiri?!?!?

apakah ada konsekuensi tersendiri jika yang menghembuskan kalam ilahi ke telinga jabang bayi itu mertua atau bukan orang tuanya sendiri?!?!

genial mengatakan...

gmn rasanya iia jd bidan persalinan?!??!

J-T mengatakan...

@Liliperry: ia kang, ayas jg kadang lupa tu :D

@Nura: sebetulnya ini bentuk salut utk pada para ibu yang melahirkan
apalagi sdh bberapa kali

@ Lina: sy doakan segera dpt momongan. ia tu, saking bahagianya katanya bang marwan lupa :D

@Genial: Heheh, masa 'gumun' juga?? kan ini cemilan sobat @ hari. pasti lbh tau :D
Jadi Bidan, Waduh Pegel Gennnn!!! :D

Munir Ardi mengatakan...

Wanita yang akan melahirkan sebagian kakinya dikuburan sebagian lagi didunia tdk heran bila meninggal diberi pahala syahid

eka mengatakan...

itulah wanita,itulah seorang ibu,wajar dan sudah semestinya ada kt2 syurga ditelapak kaki ibu.please........bgt jgn sakiti wanita!

goresan lia mengatakan...

perjuangan seorang wanita, makanya wanita disayang donk

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungannya...!!! Nice Smiling4U. Thanks!!!