07 Juli 2009

Bila Larut Semakin Larut

07 Juli 2009

Setelah kuliahnya terkatung karena terjegal ekonomi keluarga, sehari-harinya Salman membantu kedua orang tua, meluapkan kepenatan dengan bekerja di ladang atau di sawah beserta petani miskin lainnya, menyulam alam yang hasilnya di timbun orang kaya di kampungnya. Seminggu sekali dia mencari nafkah dengan membersihkan halaman rumah orang yang taman bunganya berantakan. Pada waktu-waktu tertentu dia selalu adzan mengajak tetangganya berjamaah di surau yang ada di sekitar tempat tinggalnya itu.

Sesekali, menjelang sore, seperti tetangga yang lain, dia juga ikut duduk-duduk di warung kopi seberang jalan dekat pos ronda, yang selalu dijadikan tempat bergumul, senda gurau, membicarakan kehidupan dan menerima berita dari kota atau negeri orang. Selepas maghrib, Salman biasanya menggurui anak kecil yang lagi belajar iqra’ dan kadang diberi penghargaan untuk mengajari para orang tuanya.
Tapi beberapa bulan terakhir ini, dia sering pergi meninggalkan rumah menemui sahabat yang masih dibodohi guru-guru besarnya. Kadang ia juga pergi entah kemana, tanpa sepengetahuan orang tua dan tetangga, bahkan sampai tidak pulang seharian. Setiap kali pulang, selalu ada perubahan yang nyata.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Di balik jendela kamar, Salman hanya duduk di atas roda-roda jiwa yang mengajaknya pergi menaiki lereng-lereng bukit tertinggi. Matanya menuju puncak-puncak langit dengan berbagai konstelasi yang sengaja diciptakan. Dalam kesendirian dan keterasingan semua orang, hanya dengan dinding-dinding diri yang sunyi serta keheningan lingkaran medan magnet pribadi, dia melesat dan ke luar dari dunia eksternal, masuk ke dalam esensi diri lalu melangkah menjelajahi sebuah tempat yang alas, panjang dan lebarnya melebihi dalam dan luasnya lautan. Akhirnya menyelinap di antara semak belukar jiwa dan otak menuju ruangan bathin dan pikirannya.


Terus masuk melewati jendela yang pintunya berupa segudang tanya, obsesi, harapan, kegelisahan, dan segala bisikan Al-Khawatir. Lalu singgah, mengkonsentrasikan diri dalam komunikasi indah intrapersonalnya. Awalnya, hanya berusaha belajar tentang dunia, ada apa di dalam dirinya dan berusaha menyemaikan tirai tipis yang menghijab realitas ilahiah diantara konstelasi dan simbol-simbol yang diciptakan para pecintaNya.

Rongga-rongga neuron yang penuh friksi realitas aktif terus membiarkan molekul-molekul zat kimia pembawa bit pesan lalu lalang dan men-support sel-sel saraf otak manusia supaya terus bekerja.
Pada taraf kesadaran yang penuh, saat ini, saraf-saraf sadar Salman berusaha recollection setiap film yang terekam. Pertama, yang keluar dari film jiwa dan pikirannya hanyalah sekumpul senyum seorang wanita, saat dia berusia 7 tahun.
“Kenapa Salman harus shalat, Ummi?”
“Karena Allah akan sayang padamu,”
“Siapa Allah itu? Dimana rumahnya? Apa Dia orang asing?” Saat itu Muthiah, ibunya, terdiam lalu menjawab, “Kul Huwallahu Ahad…..Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad”


Dasar tauhid yang sederhana itu telah menumbuhkan bibit-bibit misteri hingga mempengaruhi cognitif structur Salman kecil, dan waktu itu Muthiah langsung menutup rangkaian tanda tanya dengan mengalihkan perhatian lalu mengajaknya bercanda. Salman sangat ingat, ketika itu dia merasakan hangatnya pelukan lembut sang ibu.

Saat ini, ketika dia berusaha mencari realitas tertinggi -eksistensi hakiki, dengan segera denyut aliran listrik di otak kanannya bicara,
“Oh, Dialah Yang Esa. Selain Dia, semuanya fana. Dialah kosmogoni yang mengawali dunia ini, bahkan merajainya……Pantas saja harus di puja.”

Sedangkan di usia 11 tahun ketika jiwa kecilnya dihantui ketakutan karena gelapnya malam, ibunya malah mengajarkan doa-doa atas nama Robbi.
“Ummi, Ummi, Rabbi itu jagoan, ya?”
“Tidak hanya jagoan, anakku! Dia itu Tuhan kita…”


Ketika itu juga ada getaran halus yang mengalir damai di sanubarinya. Di ingatannya, Salman merasakan kehadiran Rabbi yang mengalir bersama angin, tersenyum diantara para bintang, menatap dengan ayunya purnama, menyebar bersama aneka cahaya yang akhirnya mengusir rasa takut yang dia rasakan waktu itu.

Saat ini pun pikiran di otak kanannya tidak banyak bicara kecuali,
“Oh, Dia itu Tuhan setiap manusia yang akan menemani dalam setiap kesulitan, yang akan menjaga dari setiap ketakutan bila disanjung dan dipuja. Dia begitu dekat. Dialah pemelihara semesta ini, cahaya langit dan bumi.”

Dalam ruangan yang sepi dari semua orang itu, ubun-ubun yang berfungsi sebagai antena radar telah menafsirkan sinyal-sinyal aqidah yang diracik otak kanannya sebagai rasa keimanan.

Tapi dengan mulut yang terbungkam, getaran-getaran listrik di otak kirinya mulai merambat dengan kecepatan 200 kaki perdetik dan memaksa persepsinya bicara lain.
“Kenapa manusia harus berdiri seperti alif dan teguh dengan pondasi yang kuat, mengimani wujud yang musatahil?”
“Ya, apa hebatnya Dia, Rabbi yang dimaksud ibumu itu? Dia hanya pengantar tidur anak kecil saja.”
Kilatan-kilatan impuls di otak kiri Salman mulai bereaksi.

“Benarkah dengan berdiri tegak lalu bungkuk dan hanya membalikkan tangan ada misteri kekuatan yang menyehatkan jiwa? Terus bila semuanya ditinggalkan, ada beban dosa yang harus ditanggung manusia dan meninggalkan najis maknawi dalam kekafiran? Aku tidak percaya bila semuanya ditinggalkan, ada luka resah dan gelisah yang dalam? Dongeng apa ini, semuanya tidak ada dan mustahil dalam kamusku.”


Tarikan nafas yang dalam dan berat langsung terdengar ketika otot-otot itu mulai menuntut data-data empiris untuk menjelaskan semua yang diterima, dirasakan dan dilakukannya. Divisi kerja otak Salman sesaat hening ketika file-file software di otak kanannya tidak mampu menganalisis tumbuhnya rasa iman.
“Untuk apa kalau semua yang kau terima, kau rasakan dan kau lakukan selama ini tidak bisa dijelaskan?” Otot-otot otak kiri itu terus menuntut hingga seluruh sel saraf di kepala Salman terasa tegang.

“He, kenapa kau diam? Apa file-file software di otak kananmu terluka cacat atau kena virus hingga bisu seperti itu?” Saraf-saraf itu semakin sentimen, kontraksinya seakan sosok hantu yang terus meludahi muka dan mulutnya yang penuh iri terus bicara dengan racunnya,
“He Salman! Jika arsip di otak kananmu itu tidak bisa menjawabku, dengarlah impuls di otak kirimu ini: Semua jawaban dan semua ajaran yang kau terima dari ibumu tentang Dia, Rabbi, atau apalah, yang menyuruhmu untuk shalat dan berdo’a hanyalah dongeng pengantar tidurmu saja. Untuk apa harus berdiri seperti patung dan meminta seperti pengemis jalanan? semuanya sia-sia! Memangnya siapa Dia itu? Hanyalah wujud tanpa bentuk, tanpa warna yang tidak bisa kau andalkan.” Setan hitam mulai mengusik otak kiri.

“Bangsat...!” Mendengar denyut-denyut otak kiri yang semakin angkuh dan menyebarkan virus keimanan, dengan kecepatan yang tinggi getaran listrik di otak kanannya merambat melebihi cahaya,
“Apa maksudnya? Apa yang kau mau itu, Heuh? Ingin meracuni aqidahnya? Selama ini apa tidak merasakan ada kedamaian dan kekuatan yang mengalir dalam kesehatan jiwa bila manusia teguh dengan keimannya?”
“Ah… Itu hanya ilusi dan sugesti yang kau ciptakan saja.”
“Tidak merasa juga kalau ihsan dalam alunan do’a, Salman menyapaNya, bertemu denganNya dan Dia pun memeluk dengan mesra?”


“…Itupun hanya delusi dan hipnotis yang kau berikan juga, bukan?” Dengan saraf yang semakin tegang, otak kirinya menyangkal mentah-mentah. Lalu...
“Selama ini pernahkah Si Salman melihat Tuhannya, atau file-file di otak kananmu dapat mencitapkan gambaranNya? Tidak ‘kan? Aku hanya butuh bukti bukan imajinasi.”


Denyut-denyut di otak kiri terus mengalir dalam konduktor yang tanpa hambatan. Lurus, tidak terkendali. Bermain dengan analisisnya.
Badai terus menggumpal, darah Salman bergelombang, dan jiwanya seakan tersengat aliran listrik Mega Volt-an hingga tubuh dan kepalanya bergetar, tidak seimbang. Komunikasi sel yang semula berkumpul di otak mulai menyebar dan turun menuju jantung. Seluruh urat nadinya mengejang dan otot di tubuhnya mulai kaku. Neourotransmitternya terus bekerja mengirimkan impuls biokimia tanpa diperintah, merambat di sela-sela jaringan saraf seluruh tubuh.

Persepsi otak kiri itu telah membuat seluruh sel saraf termenung dengan jiwa yang mulai bergoyang dan detak jantung yang tidak teratur.
“Benar Salman! Kau tidak bisa melihat wujudNya dan aku buta tidak bisa menggambarkanNya. Tapi dalam hal ini, pikiranmu hanyalah kompas, ma’rifat di hatimu itu biangnya musyahadah.” Dengan sportifnya sel-sel otak kanan mengakui segala kekurangan file software yang ada dan berusaha mengembalikan ke akar segala akar.

“Rupanya kalau dokumen di otaknya terus dibuka, sebanyak itu pula dia tidak bisa menjelaskan apa-apa, he!.” Bayang-bayang hitam yang menjelma itu tidak puas mendengar persepsi otak kanan hingga Salman merasakan jiwanya terus bergoyang dengan otak kiri yang semakin kuat berkontraksi.

“Pasti begitu!” Suara bayangan hitam itu merupakan denyut yang merangsang otak kiri dan terus menyudutkan aqidah manusia. Lalu,
“Aku juga yakin dia juga pasti bingung, kenapa Si Salman terlahir hanya seorang miskin yang selalu kelaparan sementara di sekitarnya banyak orang yang hidupnya mewah. Padahal kita tahu dirinya butuh makan, hiburan, rumah mewah, bahkan wanita-wanita yang biasa dibeli.”
“Sungguh naif!”
“Kau yang bodoh!”
“Kau!”
“Kau yang dungu!”
“Kau…”


Kilatan-kilatan itu terus memenuhi ruang otak yang sempit. Neuron yang seperti switch mikrokospik otomatis itu terbuka saling bergantian dan saling menuduh satu sama lain, sementara bayangan hitam, sang provokator ulung itu menyeringai dengan taring-taring runcingnya.
“Kalau memang bisa, jelaskan kenapa Si Salman terlahir bukan sebagai jutawan, atau memang kau hanya taklid menerima semua kenyataan itu?” Bayang-bayang hitam menyela lagi dan mulutnya yang nyinyir terus bicara penuh duri.
“Kalian yang terlalu angkuh! Ketahuilah, itu merupakan hak prerogatif dan itu juga titik-titik imperatif Tuhan atas, kun fayakun.”
“Ah, omong kosong!”


“Kalian memang naif! Dia bisa jadi jutawan bahkan lebih dari itu. Dia sudah dibekali fasilitas yang lengkap untuk meraihnya dan keberadaan kalian harusnya pelengkap yang sempurna. Rupanya kalian hanya ilalang yang harus ditebang.”

“Sia-sia saja! Selama manusia masih waras, aku akan abadi dan perlu kau tahu juga, Adam saja tunduk padaku. Apalagi kau, tak akan bisa membunuhku.”


Seakan tidak peduli keangkuhan antek-antek iblis itu, serabut nerit yang menjulur panjang berusaha menekan otak kiri.
“Aku ingin tahu, bagaimana kau pikir tentang seorang pelukis?”
“Buat apa kau tanya itu?”
“Jawab sajalah!”
“Oke! Seorang pelukis akan mencitrakan semua emosi dan skillnya lalu mengguratkan kanvasnya ke seluruh lukisannya itu,”

“Tapi tergantung pesanan, bukan? Terlebih dia tidak akan sanggup menghidupkan karyanya itu.” Sel-sel saraf otak kanan terbuka cepat dan memotong persepsi otak kiri.

“Hak prerogatif Tuhan lebih dari itu. Dia akan mencurahkan seluruh kasih sayangNya, kehendakNya, dan kuasaNya untuk menciptakan karya terindah. Dialah Pelukis Agung dan kau harus ingat, tanpa paksaan!” Nurani yang mendengar friksi-friksi yang tidak teratur itu mencoba menengahi.

“Sungguh kau pandai membual! Rupanya Tuhanmu itu seorang pelukis juga, ya? Ha…ha..ha…” Impuls di otak kiri malah menyebarkan virus anthropomorfisme.
Mendengar itu, salah satu ujung nerit mencengkram dendrit neuron otak kanan dan memaksa kelenjar endokrin melepas hormon dengan cepat, merangsang otak kanan untuk membentak keras dan tinggi,
“Dasar picik! Saraf-sarafmu itu memang sudah kacau dan kau benar-benar gila. Dasar otak kiri yang miring! Rupanya kau sudah kesetanan!”

..................

Helaan nafas Salman begitu berat, sesaat terhenti sesaat terhembus. Sejuknya angin yang masuk di sela-sela jeruji jendala kamarnya terasa segar dan mendinginkan kepala yang beberapa saat penuh friksi sel-sel saraf otak. Salman pun berusaha menyelaraskan kembali gelombang otak dengan keimanannya.

Matanya terpejam, nafasnya diatur pelan-pelan hingga yang dihirup hanya energi -prana yang lebih halus dari udara. Saat itu dia juga berusaha menyelaraskan medan magnet tubuhnya dengan energi alam raya untuk menciptakan resonansi metafisis jiwanya. Gelap terus berjalan dan keheningan semakin dalam.
Ketika pintu ruang dan waktu terbuka lebar, Salman merubah gelombang listrik otakya dari frekuensi 32 Hz menjadi 7 Hz sehingga seluruh tubuhnya terasa relax. Dalam keadaan seperti ini, tanpa disadari, setiap stimulus semakin menjadi input otak dan jiwanya. Sementara itu, konstelasi yang tercipta merupakan gambaran berbagai sosok dan bentuk yang selalu berubah.

to be contiued

1 komentar:

lina mengatakan...

Ditunggu nih kelanjutannya...

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungannya...!!! Nice Smiling4U. Thanks!!!