04 Juli 2009

Ranjang Pengantin Wanita (2)

04 Juli 2009

Bagi sobat diary yang sudah membaca Ranjang Pengantin Wanita (1) mari kita nikmati lagi keindahan bahasa yang penuh makna itu. Bagi yang belum silahkan baca dulu biar nyambung terussss.

Ranjang Pengantin Wanita (2)

Saat tengah malam, suara riuh semakin menggila. Pikiran para tamu dibayangi anggur dan omongan-omongan mereka tertelan. Pengantin pria berdiri di tempatnya. Dia adalah seorang laki-laki setengah umur, tampangnya keras. Kemabukkan telah panca inderanya. Dia berjalan diantara para tamu, saling bertukar sapa dan mengucapkan selamat.

Pada saat itu, pengantin wanita mengisyaratkan seorang gadis untuk datang dan duduk di sebelahnya. Dia memandang berkeliling seperti seseorang yang ingin membeberkan rahasia yang menakutkan. Ia mencondongkan badannya ke arah gadis itu dan membisikkan kata-kata pada telinganya dengan suara bergetar,


“Kumohon, temanku, demi cinta kasih yang mengikat jiwa sejak kita masih kanak-kanak. Kumohon padamu demi semua yang mengasihimu dalam hidup ini, demi rahasia-rahasia hatimu, demi cinta yang telah menyentuh jiwa kita dan membuatnya terang. Kumohon padamu demi kegembiraan hatimu dan kesengsaraan hatimu. Pergilah saat ini juga kepada Saleem dan mintalah padanya untuk datang diam-diam menuju taman dan menungguku di sana diantara pohon kenari. Bujuklah dia untukku, Sosan, samapai dia mau. Ingatkan dia akan hari-hari yang lalu. Mintalah padanya atas nama cinta".

Ceritakan padanya,

“Dia malang dan buta.” Beritahu dia, ”Dia sekarat dan ingin membuka hatinya padamu sebelum bayang-bayang melahapnya.” Katakan padanya, “Dia mati dalam penderitaan dan hanya ingin melihat cahaya matamu sebelum api neraka merenggutnya pergi.” Ceritakan padanya, “Dia adalah pendosa yang ingin mencari pengakuan dosa-dosanya dan meminta maafmu.” “Cepatlah dan mintalah padanya demi aku. Tak perlu kau takut bahwa babi-babi ini akan menangkapmu, karena anggur telah menutup telinga dan telah mebutakan Mata mereka.

”Sosan bangkit dari sisinya dan pergi bicara pada Saleem yang malang, yang masih duduk sendiri. Dia mulai mohon dengan sangat padanya, membisiki telinganya kata-kata temannya, bukti-bukti kasih sayang dan ketulusan terhampar dalam wajahnya. Saleem memutar kepalanya, mendengarkan, namun tak sepatah kata pun keluar. Ketika gadis itu selesai bicara, Saleem melihatnya seperti seorang yang haus melihat secangkir air dalam kubah langit. Dengan suara rendah seperti datang dari kedalaman bumi, dia menjawab, “Akan kutunggu dia dalam taman diantara pohon-pohon kenari.”

Lalu dia bangkit dan menuju ke taman. Tak selang beberapa menit, pengantin wanita bangkit mengikutinya, melihat sekeliling dengan sembunyi dari para lelaki yang keranjingan anggur dan para perempuan yang tetap asyik dengan laki-laki muda. Dia keluar menuju taman, disembunyikan oleh jubah-jubah malam, tergesa-tergesa seperti seekor rusa yang takut dan melarikan diri dalam semak-semak, menghindar dari serigala-serigala lapar. Dia mencapai pohon kenari dan laki-laki muda itu sedang menunggu. Ketika ia telah sampai di sisinya, dia melemparkan dirinya pada laki-laki itu, merangkul lehernya dengan kedua lengannya dan menatap matanya. Lalu dia bicara dengan tergesa-gesa, kata-kata yang keluar dari bibirnya seperti arimata mendesak mengalir dari matanya,
“Dengar cintaku, dengar baik-baik. Aku menyesali ketakpedulian dan kegopohanku. Aku menyesal, Saleem, hingga penyesalan meremukkan hatiku. Aku mencintaimu dan tak pernah mencintai orang lain. Aku akan mencintaimu sampai akhir hidupku. Mereka mengatakan padaku bahwa engkau telah melupakanku, bahwa engkau telah melarikan diri dariku, bahwa engkau telah jatuh cinta pada wanita lain. Mereka ceritakan itu semua, Saleem, dan lidah mereka meracuni hatiku. Kuku mereka menyobek hatiku dan mengisinya dengan kebohongan. Nejeba memberitahuku bahwa engkau telah melupakanku, bahwa engkau jijik padaku, bahwa engkau telah jatuh cinta dengan penuh nafsu kepada gadis itu. Wanita setan berbuat tak adil padaku dan memperdaya perasaanku sehingga aku bersedia mengambil saudaranya menjadi suamiku. Aku bersedia, Saleem, namun sebenarnya aku tak punya suami lain kecuali engkau.”

“Sekarang, tudung itu telah hilang dari mataku, dan aku datang padamu. Telah aku tinggalkan rumah ini dan tak akan kembali. Tak ada kekuatan di dunia ini yang dapat mengembalikanku pada lengan laki-laki yang dengan penuh kebencian dan keputusasaan kuterima dalam pernikahan. Aku telah meninggalkan suami yang kupilih dengan tak benar menjadi pemimpin. Telah kutinggalkan ayah yang ditakdirkan menjadi penjagaku. Telah kutinggalkan bunga-bunga yang dibingkiskan bapak pendeta sebagai karangan bunga. Telah kutinggalkan hukum dengan tradisi yang mengikat dalam kungkungan. Telah kutinggalkan semuanya dalam rumah ini, rumah yang penuh dengan kemabukkan dan kerusakan tabiat. Aku telah datang untuk mengikutimu menuju tempat yang jauh, menuju akhir bumi ini, menuju rumah-rumah jin yang tersembunyi, menuju tangan-tangan kematian.”

“Ayolah kita harus bergegas, Saleem, dan meninggalkan tempat ini di bawah selimut malam. Kita harus pergi menuju teluk dan menaiki kapal yang akan membawa kita ke tempat yang tak diketahui. Marilah pergi sekarang, sehingga ketika fajar tiba kita akan selamat dari tangan-tangan musuh kita. Lihat, lihatlah perhiasan emas ini, permata-permata berharga ini. Semua ini akan menjadi masa depan kita. Harganya akan cukup bagi kita untuk hidup seperti pangeran dan puteri! Mengapa kau hanya diam, Saleem? Mengapa engkau tak melihatku? Mengapa engkau tak menciumku? Apakah engkau tak mendengar tangisan hatiku dan jeritan kalbuku? Apakah engkau tak percaya bahwa aku telah meninggalkan pengantin laki-lakiku, ayahku, ibuku, dan datang dalam gaun pesta untuk melarikan diri bersamamu? Katakan sesuatu, atau ayolah cepat, karena saat-saat ini lebih berharga daripada berlian, lebih mahal dari mahkota raja-raja.”

Saat pengantin wanita bicara, suaranya adalah lagu yang lebih manis dari bisikan kehidupan, lebih pahit dari tangisan kematian, lebih lembut dari kepakan sayap-sayap, lebih dalam dari gemuruh gelombang –sebuah lagu yang berputar bersama keputusasaan dan harapan yang berganti-ganti, dengan kesenangan dan kesusahan, dengan kegembiraan dan penderitaan, dari semua kerinduan dan perasaan dalam hati seorang wanita.

Saat pemuda itu mendengarkan, antara cinta dan kehormatan bergolah dalam jiwanya. Cinta yang telah membuat jelas keras menjadi lunak, dan membalikkan kegelapan menjadi cahaya, serta kehormatan yang berada di hadapan jiwa mengelakkannya dari gairah dan keinginannya. Cinta itu diberikan Tuhan dalam hati, kehormatan itu dicurahkan hukum-hukum manusia menuju pikiran.

Sunyi, saat-saat menakutkan lewat , saat-saat seperti abad gelap di mana negara-negara muncul dan jatuh. Pemuda itu mendongak. Rasa ksatria dalam jiwanya telah dapat mengendalikan gairahnya. Dia mengalihkan pandangan matanya dari gadis yang menunggunya dengan tegang dan berkata pelan, “Wanita, kembalilah ke pelukan suamimu. Masalah telah selesai, dan kesadaran telah menghapus lukisan yang dipoles oleh mimpi-mimpi. Kembalilah pada pesta pernikahanmu, sebelum mata-mata tajam melihatmu dan orang-orang mulai berkata, “Dia mengkhianati suaminya pada malam pernikahannya seperti dia mengkhianati kekasihnya pada saat dia pergi.”

Karena kata-kata ini, pengantin wanita mulai bergetar, bergoyang seperti bunga dihembus angin. Dia berkata dalam kesengsaraan, “Aku tak akan kembali ke rumah ini, bahkan sampai nafas terakhir hidupku. Aku telah meninggalkannya untuk selamanya. Aku telah meninggalkannya dan semua orang di dalamnya seperti tahanan meninggalkan tanah pengasingan. Jangan pisahkan aku darimu, dan jangan katakan aku tak setia, karena tangan cinta yang mengikat jiwaku dan jiwamu lebih kuat dari tangan pendeta yang mengantarkan tubuhku pada kehendak suamiku. Lihat, aku telah melingkarkan tanganku di lehermu, dan tak ada kekuatan yang dapat melepaskannya. Jiwaku telah mendekat ke jiwamu, dan bahkan kematian pun tak dapat memisahkannya.”

Pemuda itu mencoba untuk untuk lepas dari lengannya, dalam suara bosan dan enggan dia berkata: “Tinggalkan aku, wanita. Aku telah melupakanmu. Ya, aku telah melupakanmu dan jijik denganmu. Cintaku sekarang milik gadis lain. Orang-orang berkata benar. Kau dengar kata-kataku? Aku telah melupakanmu, dan tak lagi mengingat keberadaanmu. Kebencianku padamu seperti mundurnya jiwaku dari pandanganmu. Tinggalkan aku dan biarkan aku pergi semauku. Kembalilah pada suamimu dan jadilah istri yang setia baginya.”

Gadis yang tersiksa itu menyahut, “Tidak! Aku tak percaya kata-katamu. Kau mencintaiku. Aku baca kata-kata cinta dalam matamu, dan kurasakan sentuhannya ketika kusentuh tubuhmu. Kau mencintaiku. Kau mencintaiku seperti aku mencintaimu. Aku tak akan meninggalkan tempat ini tanpamu. Aku tak akan pergi ke rumah ini selama ada sisa keinginan untuk bebas pada diriku. Aku datang untuk mengikutimu menuju ujung dunia. Jadi sekarang engkau harus memegangku dan menumpahkan darahku.”

Pemuda itu berkata lagi sambil meninggikan suaranya, “Tinggalkan aku, wanita, atau aku akan berteriak dan memanggil semua orang yang diundang untuk berbagi kesenangan dalam pernikahanmu. Aku akan membuatmu malu dan menjadikanmu satu potong yang pahit di mulut mereka, bahan hinaan lidah-lidah mereka. Dan Najeeba yang mengundangku, yang kucintai, akan mengejekmu, tertawa dalam kemenangan dan menghina kekalahanmu.”


Pada saat berkata, ia mengambil lengan gadis itu dan mendorongkan ke wajahnya. Wajah gadis itu berubah. Matanya menyala. Semua permohonannya, harapannya, dan kesedihannya berbalik menjadi kemarahan dan kekejaman. Dia menjadi seperti seeokor singan betina yang kehilangan anaknya, laut yang kedalamannya di hempas oleh taufan. “Siapa yang akan menikmati cintamu setelah aku? Hati wanita mana akan mereguk ciuman mulutmu?”

Ketika selesai mengucapkan kata itu, ia menarik sebuah belati tajam dari dalam gaunnya dan seperti kilat menikam dada pemuda itu. Pemuda itu jatuh ke tanah, sebuah cabang yang dikoyak badai. Gadis itu mendekat, belati tajam masih di tangannya. Pemuda itu membuka matanya yang kabur oleh bayangan kematian, dari bibirnya yang bergetar dan nafas yang lemah dia berkata:

“Kesinilah, kekasih, datang padaku Layla, dan jangan tinggalkan aku. Kehidupan lebih lemah dari kematian, namun kematian lebih lemah dari cinta. Dengar, apakah engkau mendengar tawa para tamu dalam pestamu? Apakah engkau mendengar gemerincing cangkir-cangkir mereka, kekasih? Engkau telah mengantarkanku, Layla, dari siksaan tawa dan kepahitan anggur itu. Biarkan aku mencium tangan yang telah mematahkan rantai-rantaiku. Ciumlah bibirku, ciumlah bibir ini yang mencoba membohongi dan menyembunyikan rahasia-rahasia hati. Tutuplah mataku yang redup ini dengan jari-jari yang ternodai darahku. Pada saat jiwaku terbang ke angkasa, letakkan belati di tangan kananku dan katakan pada mereka bahwa aku bunuh diri dalam keputusasaan dan kecemburuan. Aku mencintaiumu, Layla, dan tak ada orang lain. Namun kubayangkan bahwa lebih baik kukorbankan hatiku, kebahagiaanku, dan hidupku daripada melarikan diri bersamamu pada malam pernikahanmu. Ciumlah aku, kekasih jiwaku, sebelum orang-orang melihat tubuhku. Cium aku, cium aku Layla!...”

to be continue...

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungannya...!!! Nice Smiling4U. Thanks!!!